Minggu, 11 Desember 2016

Bercanda dengan Lawan Jenis, Boleh Ga ya?

Bolehkah #bercanda dengan lawan jenis? Misalnya teman satu kelas, satu kampus, satu kepanitiaan, tetangga, temannya adik, dan lain-lain?

Canda (gurauan) dalam bahasa Arab disebut mizah atau mumazahah.

Al-Jailany dalam Syarah Al-Adabul Mufrad, mendefinisikan canda adalah berbicara secara ramah dan menciptakan kegembiraan terhadap orang lain (Ath-Thahthawi, Senyum dan Tangis Rasulullah, hlm. 116).

Hukumnya mubah menurut An-Nawawi (An-Nawawi, Al-Adzkar, hlm.279). Dalilnya, hadits dari Abu Hurairah RA, bahwa para shahabat bertanya,

”Wahai Rasulullah, sesungguhnya Anda telah mencandai kami.” Rasulullah saw. menjawab “Sesungguhnya tidaklah aku berbicara, kecuali yang benar.” (HR Tirmidzi, al-Adzkar, hlm. 279).

Jadi, bercanda itu hukumnya mubah, asalkan sesuai syari’ah. Itu secara umum.
Lalu bolehkah bercanda dengan lawan jenis yang bukan mahram? Jawabnya, boleh (mubah) sepanjang sesuai syariah.

Dalilnya, karena Rasulullah pernah mencandai seorang gadis yatim di rumah Ummu Sulaim.

Rasul berkata kepada gadis yatim itu, ”Engkau masih muda, tapi Allah tidak akan membuat keturunanmu nanti tetap muda. “Ummu Sulaimah lalu berkata,”Hai Rasulullah, Engkau berdoa kepada Allah bagi anak yatimku, agar Allah tidak membuat keturunannya tetap muda. Demi Allah, ya memang dia tidak muda selama-lamanya.” (HR. Ibnu Hibban, dari Anas bin Malik RA) (Ath-Thahthawi, Senyum dan Tangis Rasulullah, hlm. 134; Nasy’at Al-Masri, Senyum-senyum Rasulullah, hlm. 65-66).

Jadi, bercanda dengan lawan jenis non-mahram, juga mubah berdasarkan dalil di atas. Baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya seperti via e-mail, chatting, atau kirim-kiriman SMS.

Tetapi, meski mubah secara syar’i, wajib diperhatikan beberapa rambu syariahnya. Di antaranya :

Pertama, materi canda :

1. Tidak mengolok-ngolok/mempermainkan ajaran Islam

2. Tidak menyakiti perasaan

3. Tidak mengandung kebohongan, ghibah (menggunjing), dan kecabulan

4. Tidak melampaui batas, yakni tidak membuat melalaikan kewajiban dan tidak menjerumuskan pada yang haram (‘Aadil bin Muhammad Al-‘Abdul ‘Aali, Pemuda dan canda, hlm. 38-44)

Kedua, pihak wanita tidak boleh genit, baik dalam perkataan tulisan, maupun dalam tingkah laku. (QS. Al-Ahzab:32).

Ketiga, wajib menutup aurat dan menjaga pandangan (ghadhdhul bashar) (QS. An-nur:31), dan tidak boleh berkhalwat (menyendiri berdua).

Keempat, jika dalam kehidupan umum (seperti kampus), wajib dipenuhi syaratnya :

(1) dalam rangka melakukan aktivitas yang dibolehkan syariah (seperti belajar mengajar)è (misalnya : Bapak dosen yang mengajar di kelas sedikit melucu agar suasana cair/sebagai ice breaker – red. KI), dan

(2) interaksi itu mengharuskan pertemuan (ijtima’) antara pria dan wanita. Jika tidak mengharuskan pertemuan – alias bisa dikerjakan masing-masing – maka tidak boleh ada interaksi, sehingga tidak boleh ada canda.

Misalnya, aktivitas makan-makan di kantin, dll. Ini semua tidak boleh dilakukan secara bersama. (Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham al-Ijtima’I fi al-islam, hal. 40).

Jadi, sebaiknya sangat berhati-hati untuk bercanda dengan lawan jenis. Baik di dunia nyata ataupun di dunia maya (email, chatting, SMS) karena bisa jadi akan menuju kepada perbuatan haram.

Kalau memang ingin bercanda, masih banyak obyek lain yang halal, misalnya dengan teman sesama jenis, atau dengan istri.

*Ust. Muhammad Shiddiq al-Jawi.

www.fb.com/KomunitasMuslimahRinduSyariahKhilafah

Kamis, 08 Desember 2016

Berani Memulai Langkah

By: Nor Aliyah

"Sampaikanlah walau hanya satu ayat." Kita pasti pernah mendengarnya. Sebagai seorang pengemban dakwah, pastinya bersemangat untuk melakukan.

"Kamu bisa, kok aku nggak?"

Memang yang namanya pemula, baru dalam berdakwah pasti berat dalam menyampaikan. Kita merasa berat, tentu bukan tanpa alasan. Kadang kita merasa tidak cukup ilmu, takut salah, takut tidak menarik, takut membosankan. Dan berbagai ketakutan lainnya. Betul begitu?

Pernahkah kita memperhatikan seorang anak balita? Ya. Seorang balita. Sewaktu kita masih balita, adakah diantara kita semua yang  langsung bisa berjalan? Tentu jawabannya tidak. Kita semua harus belajar merangkak terlebih dahulu, lalu belajar berdiri dengan berpegang pada dinding atau kursi, kemudian baru kita belajar melangkah. Pada waktu itu, kita harus berani untuk mencoba memulai melangkah. Sedikit demi sedikit. Kadang jatuh, berdiri lagi. Terjatuh, lalu menagis. Tapi kemudian mencoba lagi. Nah, seandainya saja kita memutuskan untuk berhenti ketika jatuh, maka yakin deh kita semua pasti tidak akan bisa berjalan seperti saat ini. Makanya, bersyukurlah karena kita tidak berhenti mencoba pada saat itu!

Demikian pun dalam berdakwah, menyampaikan kebaikan. Tepislah berbagai rasa takut yang menghantui. Sebenarnya, semua itu hanyalah perasaan, hanya was wis belaka. Kalau kita selalu saja mendengarkan was wis, atau perasaan takut itu. Bisa-bisa kita tidak akan pernah menyampaikan dakwah selamanya. Karena merasa belum ahli, belum dalam ilmu, belum baik dan sebagainya.

Jujur, motivasiku dalam membuat tulisan ini pun adalah hanya ingin berbagi. Terus mencoba menyampaikan walau hanya satu ayat. Menyampaikan walau dari sedikit hal yang kuketahui. Karena seandainya aku terus memikirkan ketidakmampuanku. Maka, tulisan ini juga tidak akan pernah ada.

Lantas, bagaimana bagi kita yang masih merasa berdakwah itu berat? Maka jawabannya adalah sampaikanlah dakwah itu dengan hati kita. Ingatlah bahwa berdakwah adalah kewajiban bagi kita, setiap muslim. Dengan kesadaran tersebut, kita akan lebih termotivasi dan memiliki keberanian untuk menyampaikan.

Nah, ada beberapa tips buat kamu yang benar-benar ingin mencoba dan berusaha berdakwah. Agar apa yang akan kita sampaikan lebih baik dan lebih terarah, tentunya.

Langkah pertama, sebaiknya kita melakukan persiapan. Pelajari dulu materi yang akan kita sampaikan. Buat ringkasannya, lalu buat alur pembahasan dan point-point penting yang akan disampaikan. Insya Allah itu sudah cukup sebagai persiapan.

Langkah kedua yaitu latihan menyampaikan materi yang sudah kita susun. Bisa di depan cermin atau minta bantuan dengan disimak oleh teman.

Langkah selanjutnya adalah take action. Pilihlah orang-orang terdekat dengan kita, lalu sampaikanlah walau hanya satu ayat. Jangan takut salah. Teruslah melangkah, lakukanlah! Sembari luruskan niat kita hanya untuk meraih keridhaan-Nya semata. []

Senin, 17 Oktober 2016

Menjadi Istimewa, Itu Bisa

Oleh: Nor Aniyah

"Tampilan biasa. Tampang pas-pasan. Nilai juga standar. Apalagi kantong jangan ditanya. Hehehe.."

"Rasa-rasanya diri ini nggak ada deh yang spesial atau istimewa. Biasa saja. Belum ada yang bisa dibanggakan. Masih bisa nggak ya kalau mau jadi istimewa?"

"Benar begitu?"

Wah, ada perdebatan sengit nih. Antara dua sohib yang lagi membahas tentang sesuatu. Tentang menjadi istimewa.

Oiya, ngomong-ngomong memang nya apa sih dari istimewa itu? Yang selalu dapat nilai seratus? Oke kita cari tahu deh.

"Ya, istimewa itu sudah pastilah yang paling keren."

Oke. Benar saja. Allah SWT juga memberitahukan pada kita bahwa sosok yang istimewa itu ya berarti yang terbaik. Jadi, tepat banget!

"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (TQS. Al-'Isra' [17]: 70)

Nah, kemampuan yang diberikan Allah SWT kepada kita berupa salah satu nikmat terbesar, yaitu akal. Akal menjadikan manusia memiliki posisi yang lebih tinggi dibanding makhluk yang lain. Bahkan, malaikat yang mulia pun Allah SWT perintahkan untuk sujud kepada manusia.

Dengan adanya akal manusia seharusnya mampu menjadi makhluk yang istimewa. Karena dengan akal inilah, kita seharusnya mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Menjadi sosok istimewa itu memang perlu proses. Kadang proses yang cukup berat. Yang bisa membuat orang maju-mundur. Rasa nggak mungkin deh!

Jangan putus asa dulu. Coba, lihatlah sebuah proses terbentuknya sebutir mutiara. Pasir yang keras dan nilainya murah, bisa berubah.
Diproses menjadi mutiara yang cantik yang sangat berharga. Namun, dalam waktu bertahun-tahun.

Nah, bayangkan seperti itu juga. Jika ingin menjadi seorang yang istimewa itu, maka kita harus sabar menjalani prosesnya. Dan harus tahu dulu prosesnya itu gimana.

Nah, mau tahu gimana prosesnya? Oke. Diberi saja deh, biar senang. Prosesnya yaitu, dengan mengkaji Islam dengan sungguh-sungguh. Eit, tidak hanya sampai di situ. Proses selanjutnya, kita terus membina diri kita dengan Islam. Nah, ini langkah awalnya. Mudah bukan?

Ada angin cobaan. Badai masalah. Gelombang ujian. Wah, pokoknya ada banyak hal yang menghadang saat menjalani proses. Ini wajar.

Terus, kamu masih kuat menjalani prosesnya?

Ingatlah, yang terpenting kita yakin dan berkemauan keras. Insya Allah prosesnya itu akan terasa mudah. Ya, semangatlah, karena Allah.

Karena hanya yang istimewa saja yang akan mampu bertahan dalam proses menjadi istimewa. Tahan banting. Hingga berhasil mencapai buah yang dihasilkan itu. Jadi, sebenarnya kita bisa kok jadi istimewa.[]

Jumat, 30 September 2016

Pemuda Pembangun Peradaban

Pemuda yang punyai cita
Pada pundaknyalah bangsa
Menggantungkan lentera harapan
Meneruskan masa depan

Bukanlah seperti pemuda yang berhura-hura
Bergelimang gemerlap dunia fana
Tenggelam dalam kemaksiatan
Terseret arus kesia-siaan

Ia adalah sang pemuda
Ia jadikan Islam sebagai mabda
Berpegang teguh hukum Al-Qur'an
Bekerja, berdoa dan berdakwah penuh kesungguhan

Pemuda pembangun peradaban mulia
Pemuda yang bermental baja
Menyampaikan untuk menyadarkan pemikiran
Menuju arah kebangkitan

Nor Aniyah
Kandangan (KalSel), 01/10/2016

Jumat, 16 September 2016

"Inilah Jalan Dakwahku!"

by: Nor Aliyah

Salah satu bentuk ketaatan yang seringkali terabaikan oleh seorang muslim adalah melaksanakan kewajiban dakwah.

Dakwah adalah melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Menyeru manusia kepada jalan Islam hingga mereka keluar dari kegelapan jahiliyah dan menuju cahaya Islam.

Dakwah merupakan aktivitas mengubah segala sesuatu yang tidak Islami menjadi Islami. Yang diubah meliputi pemikiran, perasaan, tingkah laku maupun peraturan. Allah Swt berfirman:“Serulah manusia ke jalan Rabb-mu (Allah) dengan jalan hikmah dan (hujjah) dan nasihat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (TQS an-Nahl [16]: 125).

Selain itu, perlu kita ketahui bahwa muslim yang terbaik adalah muslim yang berdakwah, menyeru ke jalan Allah. Sebagaimana firman Allah:“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)’”. (TQS Fushilat [41]: 33).

Nah, Sejatinya sebagai ciri yang telah melekat pada kita, yaitu predikat sebagai umat yang terbaik, dakwah adalah sebuah kewajiban yang sama dengan kewajiban kita yang lainnya. Sebagaimana firman Allah SWT:“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah...” (TQS Ali Imran[3]: 110)

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (TQS Ali Imran[3]: 104)

"Siapa saja yang menyeru manusia pada petunjuk (Islam), dia pasti akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala yang diperoleh orang yang mengikuti petunjuk tanpa mengurangi sedikitpun pahalanya.” (THR Ahmad, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Sobat, muda-mudi Islam, dakwah itu bukanlah selingan, melainkan aktivitas utama. Dakwah adalah konsekuensi dari mengimani Islam. Maka jadilah muslim yang terbaik dengan menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan kita. Baik dalam keseharian, bergaul, bermasyarakat dan aktivitas hidup lainnya. Dengan menjadikan dakwah sebagai poros hidup, di manapun aktivitas kita jalankan, selalu ada napas dakwah di dalamnya. Karena hidup dengan segala aktivitasnya yang berporos pada jalan dakwah tersebut, menjadi indikator pencapaian sukses yang sejati. Sukses dunia dan akhirat. Insya Allah.[]

*Sumber foto: Muslimah Dakwah Visual

Jumat, 09 September 2016

Wanita Sholehah

Karya: Sayidatur Rahmah

Wahai teman-teman perempuanku
Renungkanlah!
Kita tidaklah sehebat dan semulia Siti Khadijah
Juga tidak setaqwa Siti Aisyah
Dan tidak setabah Siti Fatimah
Kita hanyalah wanita akhir zaman
yang memiliki cita-cita sama
Yaitu, menjadi wanita sholehah

*Siswi MTsN Angkinang, HSS, KalSel